Surabaya - Tradisi masyarakat
Surabaya memakai topeng muludan demi memperingati Hari Maulid Nabi
Muhammad SAW mulai terkikis. Rupanya, beberapa anak-anak lebih akrab
bermain teknologi canggih seperti gadget ketimbang permainan tradisional
berupa topeng berbahan dasar kertas daur ulang tersebut .
Karminto
(65), pengrajin topeng muludan yang tinggal di daerah Girilaya gang 5
Surabaya mengakui hal itu. Ia mengatakan, hanya sedikit pedagang kali
lima yang mau menjajakan topeng muludan di kota metropolitan seperti
Surabaya. Lantaran tak jarang mereka membawa kembali pulang dagangannya.
Berbeda
dengan di pinggiran kota seperti daerah Sidoarjo, Sidotopo, Krian
ataupun Mojokerto. Terlihat berjejeran pedagang topeng muludan di
sekitar pasar atau pinggir jalan. Mereka menjajakan topeng muludan yang
dikulak dari Karminto seharga Rp 8.000 per-topeng, kemudian dijual
dengan harga Rp 15 ribu hingga 20 ribu.
Karminto menyebutkan,
pasang surut ia melakoni pekerjaan membuat kerajinan topeng muludan
bersama istri, Kartining (63) dan ketiga anaknya. Terkadang mereka mampu
mencetak dan mewarnai sekitar 50 topeng perhari, mulai dari topeng
kecil hingga yang berukuran besar.
Di sisi lain, ada satu hal
yang membuat mereka bangga, sebab topeng buatannya tak hanya dipesan
pedagang sekitar Jawa Timur, tetapi juga Tarakan, Papua dan luar pulau
Jawa lainnya. "Jadi yang pesan ada ya dari luar Jawa," ucap Kartining
disela workshop topeng muludan di Balai Pemuda Surabaya, Jumat
(13/12/2013).
Sembari mempraktekan cara mewarnai topeng kepada
puluhan peserta workshop, Kartining dan Karminto menyelipkan filosofi
tentang tradisi topeng muludan di Jawa. Menurut mitos Jawa, topeng
kertas berbentuk hewan ini dipakai berkeliling kampung sambil
bershalawat dengan maksud tertentu. Tak lain untuk mengusir setan.
Bentuk
binatang seperti macan, serigala, kera ataupun tengkorak bukan berarti
menakut-nakuti teman, tetapi untuk mengusir segala macam balak di daerah
tersebut.
Sementara, Heri Lentho, salah satu seniman penggagas
acara menjelaskan, workshop didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata kota Surabaya, berlangsung dua hari mulai Kamis (12/12/2013)
lalu, dalam rangka merevitalisasi seni budaya yang ada di Surabaya.
Topeng
muludan sebagai penanda masyarakat Surabaya menyambut Maulid Nabi
Muhammad ini agar tidak hilang begitu saja. Anak-anak generasi muda
harus dipertontonkan seperti apa tradisi masyarakat yang ada. Selain
itu, untuk mengingatkan kembali memori masa kecil para dewasa.
"Ketika
diskusi banyak yang bilang. Wahh topeng muludan, teng-tengan ciluk,
topi laila, hidung paman dolit, iki ngilingno aku karo jaman cilikanku
bien. Nah ini yang ingin kami lestarikan kembali," ucap Heri Lentho.
*Sumber : beritajatim.com
Topeng Muludan, Tradisi yang Terkikis Modernisasi
Post By Indo Artha on 13 Desember 2013 | 6:43 PM
Labels:
Sosial
,
topeng muludan
,
tradisi
