Home » , , » Topeng Muludan, Tradisi yang Terkikis Modernisasi

Topeng Muludan, Tradisi yang Terkikis Modernisasi

Post By Indo Artha on 13 Desember 2013 | 6:43 PM

Surabaya - Tradisi masyarakat Surabaya memakai topeng muludan demi memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW mulai terkikis. Rupanya, beberapa anak-anak lebih akrab bermain teknologi canggih seperti gadget ketimbang permainan tradisional berupa topeng berbahan dasar kertas daur ulang tersebut .

Karminto (65), pengrajin topeng muludan yang tinggal di daerah Girilaya gang 5 Surabaya mengakui hal itu. Ia mengatakan, hanya sedikit pedagang kali lima yang mau menjajakan topeng muludan di kota metropolitan seperti Surabaya. Lantaran tak jarang mereka membawa kembali pulang dagangannya.

Berbeda dengan di pinggiran kota seperti daerah Sidoarjo, Sidotopo, Krian ataupun Mojokerto. Terlihat berjejeran pedagang topeng muludan di sekitar pasar atau pinggir jalan. Mereka menjajakan topeng muludan yang dikulak dari Karminto seharga Rp 8.000 per-topeng, kemudian dijual dengan harga Rp 15 ribu hingga 20 ribu.

Karminto menyebutkan, pasang surut ia melakoni pekerjaan membuat kerajinan topeng muludan bersama istri, Kartining (63) dan ketiga anaknya. Terkadang mereka mampu mencetak dan mewarnai sekitar 50 topeng perhari, mulai dari topeng kecil hingga yang berukuran besar.

Di sisi lain, ada satu hal yang membuat mereka bangga, sebab topeng buatannya tak hanya dipesan pedagang sekitar Jawa Timur, tetapi juga Tarakan, Papua dan luar pulau Jawa lainnya. "Jadi yang pesan ada ya dari luar Jawa," ucap Kartining disela workshop topeng muludan di Balai Pemuda Surabaya, Jumat (13/12/2013).

Sembari mempraktekan cara mewarnai topeng kepada puluhan peserta workshop, Kartining dan Karminto menyelipkan filosofi tentang tradisi topeng muludan di Jawa. Menurut mitos Jawa, topeng kertas berbentuk hewan ini dipakai berkeliling kampung sambil bershalawat dengan maksud tertentu. Tak lain untuk mengusir setan.

Bentuk binatang seperti macan, serigala, kera ataupun tengkorak bukan berarti menakut-nakuti teman, tetapi untuk mengusir segala macam balak di daerah tersebut.

Sementara, Heri Lentho, salah satu seniman penggagas acara menjelaskan, workshop didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Surabaya, berlangsung dua hari mulai Kamis (12/12/2013) lalu, dalam rangka merevitalisasi seni budaya yang ada di Surabaya.

Topeng muludan sebagai penanda masyarakat Surabaya menyambut Maulid Nabi Muhammad ini agar tidak hilang begitu saja. Anak-anak generasi muda harus dipertontonkan seperti apa tradisi masyarakat yang ada. Selain itu, untuk mengingatkan kembali memori masa kecil para dewasa.

"Ketika diskusi banyak yang bilang. Wahh topeng muludan, teng-tengan ciluk, topi laila, hidung paman dolit, iki ngilingno aku karo jaman cilikanku bien. Nah ini yang ingin kami lestarikan kembali," ucap Heri Lentho.

*Sumber : beritajatim.com
Share this article :
 
Copyright © 2014. Gombek - All Rights Reserved