Surabaya - Atas ada isu penutupan
lokalisasi Sememi yang akan dilakukan Pemkot Surabaya dalam waktu dekat
ini, ternyata semakin terlihat. Minggu (22/12/2013) sore, sudah ada
ratusan warga lokalisasi menggelar aksi deklarasi di Kantor Paguyuban RW
01, Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo.
Sembari orasi, warga
juga membubuhkan tanda tangan secara massal sebagai wujud penolakan.
Mesti berjalan singkat, aksi yang diikuti PPL (Paguyuban Pedagang
Lokalisasi), Paguyuban Pengusaha Lokalisasi, PSK, dan seluruh elemen
warga RW 1 ini berjalan dengan histeris.
Saat orasi, Agus, sang
orator meneriakkan pernyataan sikap lesan terkait penolakan penutupan.
Pernyataan sikap tersebut meliputi warga Sememi Jaya menolak penutupan
serta berharap agar pemkot berfikir atas kehidupan dan kelayakan ekonomi
warga. Agus juga mengajak warga agar menyatukan tekad untuk
mempertahankan lokalisasi.
"Dengan penutupan akan berdampak pada
penyakit yang akan ditularkan. Akan terjadi prostitusi liar. Bahkan,
harus diperhatikan juga efek lain yaitu naiknya tingkat pengangguran dan
kejahatan di wilayah ini," teriak Agus ke ratusan penghuni.
Sebab,
lanjutnya, ada 178 lebih warga yang mencari nafkah di Sememi. "Kasian
kalau tiba-tiba ditutup begitu saja, terus kita mau makan apa. Kami
meminta kepada Pemkot agar memberikan kejelasan tentang status
lokalisasi apa jadi ditutup apa tidak. Jadi, Saya minta realisasi dialog
terlebih dulu. Sehingga warga tak hanya diombang-ambingkan isu seperti
sekarang," tegas Agus seusai orasi.
Sementara itu, Marni salah
seorang penjual nasi yang selama ini berjualan di area lokalisasi
mengatakan. Dirinya dengan tegas menolak penutupan. Karena Ibu dua orang
anak ini merasa telah membesarkan anak – anaknya dari lokalisasi ini.
"Sekarang mulai sepi mas. Sebelum ada isu (penutupan) ini, penghasilan
Saya bisa 200 ribu perhari. Sekarang, rata – rata hanya 70 ribuan.
Tolong Bu Risma. Jangan ditutup ya. Kalau ditutup, Saya mau kerja apa,"
keluh Marni yang meminta agar pesannya bisa tersampaikan ke Risma.
Di
tempat yang sama, Luna (nama samaran), salah seorang PSK mengatakan
bahwa dengan adanya isu ini tamunya banyak yang menghilang. Biasanya,
dalam sehari saja. Dirinya bisa didatangi klien hingga 10 orang. Namun
sekarang, untuk menembus angka tersebut sangat sulit. Rata–rata hanya 1
hingga 3 orang saja. "Mungkin mereka (klien) takut di operasi atau pas
ditutup tiba – tiba. Jadinya enggan kesini. Tolonglah jangan sampai
ditutup. Beneran mas. Sudah satu bulan ini sepi sekali. Semoga
Pemerintah mempertimbangkan nasib kami disini," pinta Luna.
Untuk
diketahui, deklarasi ini dimulai pukul 15.00 hingga 17.00 Wib. Nampak
ratusan warga baik laki – laki maupun perempuan ikut memadati balai
paguyuban. Beberapa PSK yang hadir rata – rata mengenakan penutup muka
(masker) agar wajahnya tak dikenali. Meski suasana ramai dan penuh
teriakan. Deklarasi ini berjalan lancar dengan kawalan aparat Polsek
Benowo. Semua warga yang begitu nampak antusias membubuhkan tanda tangan
mereka di kertas yang sudah disediakan.
Dari pantauan
dilapangan. Hingga semalam, di lokalisasi ini nampak datang puluhan
aparat gabungan dari Polrestabes dan Satpol PP kota. Pengamanan ini
dilakukan terkait tersebarnya isu bahwa akan ada penutupan oleh Walikota
Tri Rismaharini. Selain itu, pada pukul 19.00 Wib semalam juga diadakan
pengajian akbar yang melibatkan penghuni yang pro dengan penutupan.
Bahkan, dengan adanya kegiatan keagamaan tersebut. Pengusaha diminta
untuk menutup wismanya hingga pengajian selesai.
*Sumber : beritajatim.com
Warga Tanda Tangan Massal Tolak Penutupan Lokalisasi Sememi
Post By Indo Artha on 23 Desember 2013 | 4:08 AM
Labels:
lokalisasi
,
sememi
,
Sosial
