Home » , , » Warga Tanda Tangan Massal Tolak Penutupan Lokalisasi Sememi

Warga Tanda Tangan Massal Tolak Penutupan Lokalisasi Sememi

Post By Indo Artha on 23 Desember 2013 | 4:08 AM

Surabaya - Atas ada isu penutupan lokalisasi Sememi yang akan dilakukan Pemkot Surabaya dalam waktu dekat ini, ternyata semakin terlihat. Minggu (22/12/2013) sore, sudah ada ratusan warga lokalisasi menggelar aksi deklarasi di Kantor Paguyuban RW 01, Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo.

Sembari orasi, warga juga membubuhkan tanda tangan secara massal sebagai wujud penolakan. Mesti berjalan singkat, aksi yang diikuti PPL (Paguyuban Pedagang Lokalisasi), Paguyuban Pengusaha Lokalisasi, PSK, dan seluruh elemen warga RW 1 ini berjalan dengan histeris. 

Saat orasi, Agus, sang orator meneriakkan pernyataan sikap lesan terkait penolakan penutupan. Pernyataan sikap tersebut meliputi warga Sememi Jaya menolak penutupan serta berharap agar pemkot berfikir atas kehidupan dan kelayakan ekonomi warga. Agus juga mengajak warga agar menyatukan tekad untuk mempertahankan lokalisasi.

"Dengan penutupan akan berdampak pada penyakit yang akan ditularkan. Akan terjadi prostitusi liar. Bahkan, harus diperhatikan juga efek lain yaitu naiknya tingkat pengangguran dan kejahatan di wilayah ini," teriak Agus ke ratusan penghuni.

Sebab, lanjutnya, ada 178 lebih warga yang mencari nafkah di Sememi. "Kasian kalau tiba-tiba ditutup begitu saja, terus kita mau makan apa. Kami meminta kepada Pemkot agar memberikan kejelasan tentang status lokalisasi apa jadi ditutup apa tidak. Jadi, Saya minta realisasi dialog terlebih dulu. Sehingga warga tak hanya diombang-ambingkan isu seperti sekarang," tegas Agus seusai orasi.

Sementara itu, Marni salah seorang penjual nasi yang selama ini berjualan di area lokalisasi mengatakan. Dirinya dengan tegas menolak penutupan. Karena Ibu dua orang anak ini merasa telah membesarkan anak – anaknya dari lokalisasi ini. "Sekarang mulai sepi mas. Sebelum ada isu (penutupan) ini, penghasilan Saya bisa 200 ribu perhari. Sekarang, rata – rata hanya 70 ribuan. Tolong Bu Risma. Jangan ditutup ya. Kalau ditutup, Saya mau kerja apa," keluh Marni yang meminta agar pesannya bisa tersampaikan ke Risma.

Di tempat yang sama, Luna (nama samaran), salah seorang PSK mengatakan bahwa dengan adanya isu ini tamunya banyak yang menghilang. Biasanya, dalam sehari saja. Dirinya bisa didatangi klien hingga 10 orang. Namun sekarang, untuk menembus angka tersebut sangat sulit. Rata–rata hanya 1 hingga 3 orang saja. "Mungkin mereka (klien) takut di operasi atau pas ditutup tiba – tiba. Jadinya enggan kesini. Tolonglah jangan sampai ditutup. Beneran mas. Sudah satu bulan ini sepi sekali. Semoga Pemerintah mempertimbangkan nasib kami disini," pinta Luna.

Untuk diketahui, deklarasi ini dimulai pukul 15.00 hingga 17.00 Wib. Nampak ratusan warga baik laki – laki maupun perempuan ikut memadati balai paguyuban. Beberapa PSK yang hadir rata – rata mengenakan penutup muka (masker) agar wajahnya tak dikenali. Meski suasana ramai dan penuh teriakan. Deklarasi ini berjalan lancar dengan kawalan aparat Polsek Benowo. Semua warga yang begitu nampak antusias membubuhkan tanda tangan mereka di kertas yang sudah disediakan.

Dari pantauan dilapangan. Hingga semalam, di lokalisasi ini nampak datang puluhan aparat gabungan dari Polrestabes dan Satpol PP kota. Pengamanan ini dilakukan terkait tersebarnya isu bahwa akan ada penutupan oleh Walikota Tri Rismaharini. Selain itu, pada pukul 19.00 Wib semalam juga diadakan pengajian akbar yang melibatkan penghuni yang pro dengan penutupan. Bahkan, dengan adanya kegiatan keagamaan tersebut. Pengusaha diminta untuk menutup wismanya hingga pengajian selesai.


*Sumber : beritajatim.com
Share this article :
 
Copyright © 2014. Gombek - All Rights Reserved