Gombek.com, Perilaku politik di Indonesia menunjukkan gelagat
'Sindrom Ken Arok'. Ini sindrom yang mengacu pada perilaku Ken Arok,
seorang tokoh dalam kisah kerajaan di Jawa Timur masa lampau. Nama Ken
Arok identik dengan keculasan dan pengkhianatan. Ia seorang biasa yang
menggunakan segala macam cara untuk meraih kekuasaan.
Ken Arok
meminta seorang empu membuat keris, yang digunakannya untuk membunuh
sang empu itu sendiri. Keris ini pun dikutuk, dan Ken Arok mengawali
petualangan politiknya yang berlumur darah. Ia rebut kekuasaan dengan
membunuh Adipati Tunggul Ametung dan merebut istri sang penguasa, Ken
Dedes. Namun pada akhirnya Ken Arok juga mati dibunuh.
Ayu
Sutarto, guru besar dan pakar kajian budaya Universitas Jember, menyebut
sindrom ini sudah begitu mencemaskan. "Banyak orang yang memperoleh
kekuasaan dengan cara tak patut dan berorientasi pada kekuasaan itu
sendiri," katanya, dalam sebuah forum diskusi, di Kabupaten Jember, Jawa
Timur, Sabtu (18/1/2014) lalu.
Sindrom Ken Arok melahirkan
dendam dan persekongkolan politik. Saat Ken Arok berkuasa, bukan hanya
rohaniwan yang dirangkul untuk memperkuat legitimasi kekuasaan, namun
juga para begal dan bromocorah. Kekuasaan pun bukan lagi dipergunakan
untuk memakmurkan rakyat, tapi mempertahankan kekuasaan itu sendiri
melalui penciptaan legitimasi tersebut.
Sindrom Ken Arok hadir di
tengah situasi demokrasi yang melenceng dari substansi musyawarah dan
mufakat. Hari ini, demokrasi dimaknai sebagai 'one man one vote' yang
berujung pada perebutan atau kontestasi suara. Hadirlah persaingan yang
tajam yang cenderung membuat orang melupakan makna demokrasi sebagai
suara bersama, suara kolektif untuk kepentingan bersama, dan bukan hanya
slogan 'vox populi vox dei' atau 'suara rakyat suara Tuhan' yang bisa
dimaknai bebas siapapun.
Gara-gara demokrasi yang sarat
persaingan nir musyawarah dan mufakat, hubungan antara rakyat dengan
pemimpinnya pun terputus. Tak ada pemimpin yang betul-betul mengakar,
dan tak ada rakyat yang meneteskan air mata saat seorang pemimpin wafat.
Jufriyadi,
anggota Fraksi Kebangkitan Nasional Ulama dan Ketua Komisi A Bidang
Hukum dan Pemerintahan DPRD Jember, menilai situasi ini lahir karena
kegagalan 'masyarakat politik' yang terdiri atas elite politisi dan
partai politik menerjemahkan keinginan 'masyarakat ekonomi' (sebutan
untuk kelompok masyarakat yang apatis secara politik dan hanya
berkepentingan dengan perekonomian pribadi masing-masing).
Jufriyadi
mengatakan, 'masyarakat ekonomi' tak peduli dengan kondisi apapun dalam
politik Indonesia, selama kebutuhan hidup terpenuhi. "Dia hanya ingin
tidur nyenyak, harga murah, perut kenyang, entah bagaimana sistem
politiknya," katanya. Jika apa yang diinginkan ini tak terpenuhi, mereka
lebih suka mengabaikan urusan politik yang riuh dan gaduh.
Bagaimana
mengatasi situasi ini? Kuncinya adalah mengembalikan makna demokrasi
pada substansi kepentingan bersama. "Mengapa tak ada kekuatan rakyat
yang bisa memaksa partai politik untuk menyehatkan kehidupan demokrasi?"
tanya Jufriyadi.
Pertanyaan ini tentu tak mudah dijawab, karena
akan memunculkan pertanyaan lainnya, tentang siapa yang bisa
menggerakkan rakyat untuk berbuat demikian. Realitasnya, masyarakat
Indonesia sudah makin pragmatis dan terjebak pada kondisi di mana fakta
dan opini.
Orang lebih menyukai opini, gosip, sehingga cara
pandang mereka dibentuk oleh opini dan bukannya fakta. Opini ini didapat
dari banyak hal, mulai dari tontonan di televisi hingga gunjingan khas
masyarakat kecil. Masyarakat seperti ini sulit berpikir kritis dan butuh
waktu untuk melakukan perubahan kultural.
Namun selalu ada jalan
keluar: gerakan kultural secara personal. Bukan saatnya lagi berharap
pada gerakan-gerakan institusional besar. Perubahan bisa mulai dilakukan
secara acak oleh orang perorang di lingkungan masing-masing. Seorang
guru bisa ikut andil dalam gerakan itu dengan mengajarkan kepada
murid-muridnya tentang arti kebesaran hati dan bermufakat. Seorang
penulis bisa terus-menerus menuliskan gagasan-gagasannya untuk dibaca
banyak orang.
Perubahan memang selalu bisa berawal dari hal-hal
yang sederhana, seperti Ken Arok yang berabad-abad lampau memulai
pertarungan politik berdarah dari sebuah keris.
*Sumber : beritajatim.com
